Menghadiri undangan dari Kepala Desa Pekandangan, menyaksikan dan sekaligus menjadi bagian dari Festival Pring Pethuk yang diselenggarakan di desa tersebut. Datang sudah siang lantaran mengikuti satu acara terlebih dahulu di Pendapa Dipayuda Adi Graha, acara kirabpun di Pekandangan sudah berjalan.
Gegap-gempitanya perjalanan acara sangat terasa, seluruh warga desa Pekandangan keluar rumah dan ambil bagian dalam pawai yang diikuti oleh 11 RT di desa itu. Mengarak Pring Pethuk yang tertata rapi dalam miniatur rumah-rumahan, diarak keliling desa oleh seluruh warga pada kelompok RT-nya masing-masing. Siang ini pesta rakyat benar-benar terwujud di Pekandangan.
Tentang “pring pethuk” itu sendiri tak ada kaitannya sama sekali dengan hal gaib, sesungguhnya maknanya adalah bentuk kearifan lokal warisan para leluhur. Pring yang dimaksud adalah bumbung, dulu di masa kecil kami adalah tempat menyimpan surat-surat berharga, sedangkan pethuk adalah sebutan pengganti untuk keterangan tentang hak milik tanah. Bumbung pring itu menjadi sarana menabung uang dari masyarakat yang pada saat yang ditentukan dikumpulkan bersama-sama untuk membayar PBB.
Nilai edukatif dari kegiatan ini sangat tinggi, oerilaku hidup hemat, gotong royong, memelihara kearifan lokal dan menjaga lingkungan hidup. Apa yang dilakukan di Pekandangan ini semoga menjadi pemantik semangat bagi desa-desa lainnya di Kecamatan Banjarmangu.
